Jumat, 09 Januari 2015

MASYARAKAT KOTA DAN MASYARAKAT DESA

Masyarakat berasal dari bahasa Latin socius yang berarti kawan. Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab syaraka yang berarti ikut serta dan berpartisipasi. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi. 


Masyarakat Kota
Masyarakat kota terdiri dari sebagian besar masyarakat yang melakukan urbanisasi. Biasanya masyrakat kota cenderung  memiliki sifat individualisme.
Berikut pengertian menurut tokoh :

Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang kedudukan sosialnya bersifat heterogen.

Max Weber
Kota menurutnya, apa bila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal.




Masyarakat Desa

I Nyoman Beratha
Desa atau dengan nama aslinya yang setingkat yang merupakan kesatuan masyarakat hukum berdasarkan susunan asli adalah suatu “badan hukum” dan adalah pula “Badan Pemerintahan”, yang merupakan bagian wilayah kecamatan atau wilayah yang melingkunginya.

R.H. Unang Soenardjo
Desa adalah suatu kesatuan masyarakat berdasarkan adat dan hukum adat yang menetap dalam suatu wilayah yang tertentu batas-batasanya: memiliki ikatan lahir dan batin yang sangat kuat, baik karena seketurunan maupun karena sama-sama memiliki kepentingan politik, ekonomi, sosial dan keamanan: memiliki susunan pengurus yang dipilih bersama; memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri.

Rifqi Sidik
Desa adalah suatu wilayah yang mempunyai tingkat kepadatan rendah yang dihuni oleh penduduk dengan interaksi sosial yang bersifat homogen, bermatapencaharian dibidang agraris serta mampu berinteraksi dengan wilayah lain di sekitarnya.


Perbedaan Masyarakat Kota dan Desa Menurut Tokoh
Kita dapat membedakan antara masyarakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:


Masyarakat Pedesaan
1).Perilaku homogen
2).Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
3).Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status .
4).Isolasi sosial, sehingga statik
5).Kesatuan dan keutuhan kultural
6).Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
7). Kolektivisme

Masyarakat Kota:
1). Perilaku heterogen
2).Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan 3).Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
4).Mobilitassosial,sehingga dinamik
5).Kebauran dan diversifikasi kultural
6).Birokrasi fungsional dan nilai-nilaisekular
7).Individualisme
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu, tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan sambilan saja .
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai, ajengan, lurah dan sebagainya.



Kini hampir sebagian besar masyarakat desa lebih memilih untuk pindah ke kota karena menurut pandangan mereka akan dapat pekerjaan yang lebih menjanjikan dan banyak yang beranggapan bahwa uang yang dihasilkan akan lebih besar jika mereka bekerja di kota dibandingkan di desa, maka dari itu banyak masyarkat desa yang berhenti bertani dan lebih memilih pindah ke kota.



Sumber :

Senin, 05 Januari 2015

PELAPISAN SOSIAL

Apa yang dimaksud dengan Pelapisan Sosial? Pelapisan sosial atau bisa disebut juga dengan Stratifikasi Sosial adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat-tingkat tertentu. Secara umum pelapisan sosial dapat diartikan sebagai pembedaan atau pengelompokan anggota masyarakat secara vertikal.



Pelapisan Sosial di Indonesia

Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakteristik masyarakat yang majemuk, hal ini menimbulkan adanya pelapisan sosial di Indonesia. Sebenarnya pelapisan sosial sudah terjadi sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, namun jika di masa lampau pelapisan sosial berdasarkan ras sedangkan di masa sekarang pelapisan sosial berdasarkan status sosial misalnya jabatan, kekayaan, pendidikan atau feodal pada masyarakat Aceh dan kasta pada masyarakat Bali.

Pelapisan sosial di Indonesia kini semakin terlihat, ini disebabkan oleh sifat masyarakat yang menuntut hak istimewa terutama kalangan tingkat atas sehingga membuat pengelompokan dalam hal bermasyarakat/bersosial. Penuntutan akan hak istimewa membuat kalangan bawah merasa minder untuk bersosialisasi dengan kalangan tingkat atas, sehingga mereka cenderung berkelompok dengan orang yang mereka anggap sederajat.




Pelapisan Sosial yang Terjadi di Sekitar Kita

Banyak pelapisan sosial yang terjadi, saya akan mengambil contoh pelapisan sosial  yang terjadi di sekitar lingkungan saya. Manusia cenderung suka memilih dalam hal apapun termasuk dalam hal memilih teman. Anak zaman sekarang lebih suka memilih teman berdasarkan status sosialnya. Biasanya dipengaruhi oleh sifat mereka yang merasa gengsi bila berteman dengan orang yang tidak sederajat dengan mereka.



Nama : Fransisca Wienda Astari
NPM : 14314370
Kelas : 1TA02


Sumber :
-http://lms.unhas.ac.id/claroline/phpbb/viewtopic.php?topic=113&cidReset=true&cidReq=108I1102
-http://triscamiaa-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-78831-Studi%20Strategis%20Indonesia%20I-Stratifikasi%20Sosial%20di%20Indonesia.html